Kilang Balikpapan Maksimalkan Produksi BBM Nasional 2025

Jumat, 28 November 2025 | 15:15:05 WIB
Kilang Balikpapan Maksimalkan Produksi BBM Nasional 2025

JAKARTA - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melangkah maju dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengoperasian unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di Kilang Balikpapan. 

Unit ini resmi beroperasi sejak 10 November 2025.

Pjs Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menegaskan RFCC menjadi kunci peningkatan kualitas dan kuantitas produk BBM. “Ini membuktikan kemampuan KPI menghasilkan produk BBM dengan kualitas lebih baik sekaligus kuantitas optimal,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).

Teknologi RFCC Ubah Residu Jadi Produk Bernilai Tinggi

RFCC memungkinkan kilang mengolah residu atau sisa pengolahan minyak mentah dari unit sebelumnya menjadi produk bernilai tinggi, seperti gasoline, propylene, dan LPG. Proses ini membuat pemanfaatan minyak mentah menjadi maksimal.

“Dengan RFCC, setiap bagian minyak mentah di Kilang Balikpapan dapat diubah menjadi produk bernilai. Ini juga menandai kecanggihan teknologi kilang nasional,” jelas Milla.

Kapasitas 90.000 Barel per Hari, Terbesar di Indonesia

Unit RFCC Balikpapan berkapasitas 90.000 barel per hari, menjadikannya yang terbesar di Indonesia. Produksi ini akan menurunkan kebutuhan impor BBM, terutama gasoline dan LPG, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Hasil produksi RFCC ini akan membantu mengurangi impor BBM. Artinya, kemandirian energi kita semakin terjaga,” ujar Milla.

Jejak Kesuksesan RFCC Sebelumnya

Sebelum RFCC Balikpapan, KPI telah mengoperasikan RFCC Cilacap dengan kapasitas 62.000 barel per hari sejak 30 September 2015, serta RCC Balongan dengan kapasitas 83.000 barel per hari sejak Maret 1994.

“Pengoperasian RFCC Cilacap selama 10 tahun menjadi modal dan optimisme bagi pekerja KPI untuk mengoperasikan RFCC Balikpapan secara maksimal,” kata Milla. KPI menargetkan unit ini dapat beroperasi penuh sesuai rencana, memastikan pasokan BBM dalam negeri semakin andal.

Terkini