Panen Anjlok Saat Kemarau, Petani Pangandaran Rugi dan Pasrah

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:56:02 WIB
Hasil Panen Merosot, Petani Pangandaran Berharap Bantuan Sumur Bor [FOTO: NET].

JAKARTA – Seorang petani di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa dirinya hanya sanggup membawa pulang sekitar 50 kilogram gabah dari garapan sawah seluas 100 bata akibat deraan kekeringan. 

Padahal, kala musim tanam normal, hamparan lahan tersebut lazimnya sanggup memproduksi lebih dari lima kuintal gabah.

Kondisi tersebut dirasakan Cicih (52), petani asal Desa Cibenda. Ia menyampaikan bahwasanya hasil panen miliknya kempes lantaran area persawahan kekurangan pasokan air sepanjang musim kemarau. 

Di samping musibah kekeringan, bulir tanaman padinya turut dihantam serangan hama walang sangit serta gangguan burung pipit sehingga capaian produksi gabah merosot tajam.

“Ya panen tapi gagal. Yang 100 bata paling sekarang hasilnya cuma 50 kilogram,” kata Cicih, Jumat (31/7/2026).

Merujuk penjelasan Cicih, hamparan tanah seluas 100 bata miliknya umumnya mampu mendatangkan lebih dari lima kuintal gabah manakala tidak diterjang kendala kekeringan maupun luapan banjir. 

Namun, hantaman musim kemarau kali ini memicu fase pertumbuhan tanaman tidak optimal akibat langkanya pasokan air.

“Sekarang kekeringan, kurang air, terus banyak hama kung kang walang sangit, terus banyak burung pipit,” ujarnya.

Biaya Produksi Tak Sebanding Hasil Panen

Cicih menilai minimnya ketersediaan air bertindak sebagai pemicu utama yang membuat perolehan hasil panennya merosot. Situasi ini mengakibatkan akumulasi biaya produksi yang telah digelontorkan sejak awal musim tanam tidak sebanding dengan hasil perolehan saat masa panen.

Guna mengolah persawahan seluas 100 bata, Cicih mengaku wajib mengeluarkan ongkos berkisar Rp 350.000 murni untuk jasa membajak sawah. 

Di luar itu, ia juga merogoh kocek untuk pembelian pupuk sebesar satu kuintal, ongkos buruh tanam, sampai pengeluaran perawatan tanaman sepanjang fase tanam.

“Sekarang rugi. Bajak sawah per 100 bata ongkosnya Rp350 ribu, belum pupuk satu kuintal per 100 bata, terus waktu tanam juga banyak biaya. Pengeluarannya besar, sedangkan panennya cuma 50 kilogram,” katanya.

Cicih menaruh harapan agar pihak pemerintah memfasilitasi solusi jangka panjang supaya kalangan petani tak lagi bergantung sepenuhnya pada curahan hujan. 

Menurut pandangannya, pengadaan jaringan irigasi maupun fasilitas sumur bor bakalan menyokong ketersediaan pasokan air sewaktu kemarau melanda.

“Kalau ada air hasilnya bisa maksimal. Minimal ada sumur bor dari pemerintah. Sekarang mah enggak ada,” ujarnya.

Dinas Pertanian Belum Terima Laporan Gagal Panen

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Yadi Gunawan mengutarakan, hingga kurun waktu saat ini pihak instansinya belum mengantongi laporan resmi terkait keberadaan lahan persawahan yang mengalami puso atau gagal panen akibat dampak musim kemarau.

Menurut penilaian Yadi, mayoritas tanaman padi yang kini memasuki fase panen telah berada pada tingkatan pertumbuhan yang memadai sehingga masih sanggup bertahan kendati debit air pada beberapa saluran irigasi mulai menyusut.

“Tapi padi yang mereka tanam sudah tinggi, sehingga akarnya sudah kuat dan tidak mudah mati,” kata Yadi.

Ia turut menilai para petani di wilayah Pangandaran telah cakap menyelaraskan pola tanam dengan dinamika musim. Di samping itu, jajaran penyuluh pertanian terus menggencarkan pendampingan sehingga efek kekeringan terhadap komoditas tanaman padi masih sanggup ditekan.

“Petani di Pangandaran sudah pintar-pintar. Bahkan sampai sekarang kami belum menerima laporan kalau ada yang mengalami gagal panen,” ujarnya.

Menurut Yadi, kondisi cuaca di kawasan Pangandaran juga tergolong masih fluktuatif lantaran hujan sesekali tetap turun sehingga membantu mencukupi pasokan air tanaman padi.

Merujuk pada data Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, total bentangan persawahan di Pangandaran mencapai 18.258,40 hektare yang tersebar pada 10 kecamatan. Dari total luasan tersebut, kisaran 50,45 hektare tergolong lahan yang mengantongi potensi terdampak kekeringan.

“Hingga saat ini, berdasarkan laporan yang masuk, tidak ada sawah yang mengalami puso atau gagal panen,” ucap Yadi.

Terkini