Risiko Gagal Panen Tinggi, Pemahaman AUTP Petani Perlu Ditingkatkan

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:31:31 WIB
Kelola Risiko Gagal Panen, Literasi AUTP Bagi Petani Perlu Dipacu [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemahaman mengenai program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dinilai masih membentangkan tantangan tersendiri bagi kalangan petani di tengah krusialnya konsep perlindungan tersebut.

Ekonom Senior Indef, Bustanul Arifin mengungkapkan bahwasanya masih banyak petani yang belum menangkap esensi substansial dari program AUTP. 

Menurut pandangannya, instrumen asuransi—terlebih skema AUTP bagi kalangan petani—merupakan hal yang belum menjadi habituasi atau budaya, sehingga wajar bila penerimaannya terasa cukup menantang.

"Bayangkan, orangnya, jiwanya atau nyawanya sendiri saja tidak diasuransikan, agak sulit untuk berharap bahwa usaha taninya akan diasuransikan," kata Bustanul dalam keterangannya, dikutip Jumat (31/7/2026).

Ia menceritakan pengalamannya tatkala berinteraksi langsung di lapangan bersama para petani mengenai pemahaman AUTP serta penunjukan PT Jasindo selaku BUMN pelaksana program AUTP. 

Indonesia dinilainya patut mencontoh negara maju layaknya Amerika Serikat, di mana para petaninya secara rasional bersedia membayar premi lantaran faedahnya riil serta dirasakan langsung oleh petani.

Bustanul menguraikan bilamana pada musim kemarau petani diterjang kegagalan panen, maka pihak perusahaan asuransilah yang bakal menanggung kerugian finansial tersebut. 

Kendati terdapat beberapa kriteria teknis, para petani sejatinya telah memasukkan komponen tersebut ke dalam perencanaan usaha tahun berjalan hingga tahun depan.

Oleh karena itu, ia memacu efektivitas kinerja AUTP agar dapat bergerak lebih optimal. Pihak pemerintah pusat diharapkan dapat memfasilitasi pelatihan khusus yang berjenjang kepada jajaran penyuluh pertanian lapangan. 

Di samping itu, ia mengusulkan agar skema kerja penyuluh ditata secara terstruktur disertai indikator kinerja utama (KPI) yang terukur.

"Libatkan universitas seluruh Indonesia, khususnya yang memiliki fakultas pertanian. Nanti akan terjadi interaksi yang makin baik antara penyuluh dengan para dosen dan peneliti di lapangan," ujarnya.

Pada sisi lain, ia mengimbau agar tidak menyeragamkan kondisi di lapangan, mengingat karakteristik agroekosistem sektor pertanian di seluruh pelosok Indonesia amat beragam.

Menurut penjelasannya, tiap daerah mengantongi keunikan tersendiri. Di kawasan Jawa mungkin komoditas varietas padi yang unggul adalah Inpari 30. 

Namun, di wilayah Sumatra, Sulawesi, serta Nusa Tenggara justru lebih adaptif menggunakan varietas Inpari 39, Inpari 42, atau Inpago (Inbrida padi gogo).

"Intinya, semuanya harus dikerjakan secara sistematis, struktural, dan sesuai dengan tugas tanggung jawabnya. AUTP bukan urusan program dan proyek, tapi perubahan perilaku untuk mengelola risiko produksi dan risiko rantai nilai pangan," katanya.

Sebagai informasi, jajaran pemerintah daerah kini gencar mendorong para petani untuk bergabung dalam program perlindungan ini di tengah ancaman gelombang kekeringan. 

Pasalnya, merujuk pada estimasi musim, hantaman kemarau 2026 diproyeksikan bakal berlangsung hingga Oktober bahkan November.

Sebelumnya, Jasindo selaku bagian dari ekosistem Danantara dalam grup IFG Holding, turut mempertegas komitmennya guna memperkokoh program AUTP demi mendukung sasaran Presiden Prabowo Subianto dalam mengapai swasembada pangan. 

Jasindo gencar menggelar edukasi kepada petani mengenai pola tanam yang adaptif beserta manajemen risiko guna menekan dampak perubahan iklim.

AUTP sendiri dirancang sebagai instrumen proteksi petani dari ancaman banjir, kekeringan, hingga serangan hama dan penyakit, lewat mekanisme pemetaan area rawan serta verifikasi lapangan sesuai aturan. 

Program AUTP ditujukan khusus bagi petani yang terhimpun dalam kelompok tani dengan batas luas lahan maksimal dua hektare per musim tanam, sebagai wujud proteksi sesuai UU No. 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. 

Program ini memberikan jaminan agar petani tetap memperoleh perlindungan finansial kala diterjang kegagalan panen akibat bencana alam atau serangan organisme pengganggu tanaman.

Terkini