Kemenag Perkuat Bimwin dengan Literasi Keuangan Bagi Pasangan Baru

Kamis, 29 Januari 2026 | 13:34:09 WIB
Kemenag Perkuat Bimwin dengan Literasi Keuangan Bagi Pasangan Baru

JAKARTA - Kementerian Agama menggarisbawahi pentingnya penguatan materi literasi keuangan dalam bimbingan perkawinan (Bimwin). 

Pendekatan ini dianggap sebagai strategi penting untuk mencegah konflik rumah tangga yang kerap kali berawal dari persoalan ekonomi. Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamaruddin Amin, menekankan bahwa pasangan yang memiliki perencanaan dan pemahaman keuangan sejak awal akan lebih siap menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketidaksiapan pasangan dalam mengelola keuangan kerap menjadi sumber utama persoalan rumah tangga. 

Oleh sebab itu, bimbingan perkawinan tidak cukup hanya membekali aspek hukum dan keagamaan, tetapi juga harus mencakup keterampilan praktis sehari-hari. Dengan cara ini, pasangan dapat memiliki bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam membangun keluarga.

Keberhasilan Kantor Urusan Agama (KUA) tidak hanya dilihat dari kelancaran administrasi, melainkan juga dampak sosial yang dihasilkannya. 

Indikator makro kesuksesan KUA diukur dari penurunan angka perceraian dan pernikahan anak. Oleh karena itu, KUA harus menjadi instrumen pencegahan, bukan hanya tempat pencatatan pernikahan semata.

Data Perkawinan dan Dampak Bimbingan Perkawinan di Indonesia

Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 1,48 juta peristiwa pernikahan di Indonesia. 

Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, bertambah sekitar 4.827 peristiwa nikah. Meskipun begitu, capaian positif terlihat dari penurunan angka perkawinan anak yang cukup signifikan.

Data dari Kemenag menunjukkan penurunan perkawinan anak hingga mencapai 52 persen. Salah satu faktor penurunan tersebut adalah penguatan bimbingan pranikah yang diberikan khusus untuk remaja. 

Edukasi yang tepat terbukti efektif untuk membangun kesadaran, menunda usia pernikahan anak, dan mempersiapkan mereka menuju keluarga yang lebih matang.

Kamaruddin menekankan bahwa bimbingan pranikah untuk remaja memberikan dampak nyata dalam mengurangi angka perkawinan usia anak. 

Program ini berhasil membangun kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum menikah. Pendidikan dan kesiapan sejak dini menjadi kunci utama mencegah pernikahan dini dan konflik rumah tangga.

Peran KUA dalam Membangun Keluarga yang Kuat dan Harmonis

KUA memegang peranan penting sebagai garda terdepan dalam layanan keagamaan bagi masyarakat. Selain berfungsi sebagai administrasi, KUA juga memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan bimbingan yang membekali pasangan baru. Penguatan literasi keuangan merupakan salah satu aspek penting yang harus diintegrasikan dalam bimbingan perkawinan.

Bimbingan perkawinan yang diberikan KUA tidak boleh sebatas teori saja, tetapi harus mampu memberikan dampak sosial yang positif. Keberhasilan KUA juga dapat dilihat dari penurunan angka perceraian dan pernikahan anak di wilayah kerjanya. Dengan demikian, peran KUA sangat strategis untuk membantu pasangan membangun keluarga yang sehat dan harmonis.

Selain itu, KUA harus terus melakukan inovasi dalam metode bimbingan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Penyampaian materi secara praktis dan mudah dipahami menjadi kunci keberhasilan. Dengan cara ini, pasangan dapat memperoleh bekal yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan dalam rumah tangga mereka.

Pengembangan Materi Bimbingan Perkawinan yang Lebih Komprehensif

Ke depan, Kemenag berencana memperluas materi Bimwin agar mencakup pengelolaan keuangan keluarga secara lebih mendalam. Perencanaan ekonomi rumah tangga juga akan menjadi fokus utama dalam bimbingan ini. Selain itu, penguatan komunikasi antar pasangan menjadi bagian penting dalam membangun fondasi keluarga yang kokoh.

Tujuan utama dari pengembangan materi ini adalah menciptakan pasangan yang siap secara mental, sosial, dan ekonomi saat memulai kehidupan rumah tangga. Dengan kesiapan yang menyeluruh, potensi konflik akibat ketidaksiapan dapat diminimalisir. Materi yang lengkap ini diharapkan dapat membangun keluarga yang kuat dan harmonis sejak awal.

Kamaruddin menegaskan bahwa kesiapan pasangan tidak hanya cukup secara hukum dan agama, tetapi juga harus memiliki kemampuan praktis. KUA sebagai institusi layanan keagamaan harus berperan aktif dalam menguatkan aspek ini. Dengan dukungan tersebut, pasangan akan lebih mampu mengelola kehidupan rumah tangga secara optimal.

Harapan dan Komitmen Kemenag dalam Menekan Angka Perceraian

Kemenag berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan bimbingan perkawinan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

 Evaluasi dan pengembangan program akan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat. Sinergi antara pemerintah, KUA, dan masyarakat sangat penting untuk keberhasilan program ini.

Diharapkan dengan pendekatan yang komprehensif, angka perceraian dan pernikahan anak dapat terus ditekan. Bimbingan yang menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan psikologis diharapkan dapat memperkuat fondasi keluarga di Indonesia. Kemenag percaya bahwa Bimwin merupakan salah satu alat efektif dalam membangun ketahanan keluarga nasional.

Sekretaris Jenderal Kemenag menutup dengan harapan agar pasangan yang menikah memperoleh bekal lengkap dari bimbingan perkawinan. Dengan bekal tersebut, mereka akan mampu menjalani rumah tangga dengan bahagia, sejahtera, dan harmonis. Layanan KUA harus terus dikembangkan agar menjadi garda terdepan dalam memperkuat ketahanan keluarga Indonesia.

Terkini