Muhaimin: Menjaga Nurani Pers di Era Algoritma dan AI untuk Demokrasi Berkualitas

Senin, 09 Februari 2026 | 08:31:55 WIB

JAKARTA - Dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang, Banten, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menegaskan betapa pentingnya peran jurnalisme berbasis nurani, etika, dan verifikasi manusiawi di tengah derasnya arus teknologi digital, algoritma, dan kecerdasan buatan (AI). Ia mengingatkan bahwa di masa ketika miliaran keputusan diambil oleh mesin, media dan lingkungan pers tetap memegang peranan sentral dalam menentukan arah bangsa dan kualitas demokrasi. Pernyataan itu muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran bahwa jika pers hanya sekadar mengejar kecepatan dengan bantuan teknologi, esensi informasi sebagai fondasi demokrasi bisa hilang.

Meneguhkan Peran Pers di Tengah Dominasi Teknologi
Muhaimin membuka pidatonya dengan menekankan bahwa jurnalisme tidak pernah bersikap netral dalam dampaknya. Justru, pers menjadi suluh peradaban, motor perubahan, serta kekuatan yang membuka kabut narasi yang membingungkan publik. Dalam konteks ini, pers tidak hanya sekadar penyampai berita cepat, melainkan sebuah institusi yang memiliki tanggung jawab historis dalam menjaga kualitas informasi. “Karena itu kepentingan bangsa tidak akan pernah lepas dari bagaimana pers bekerja, bagaimana pers menjaga nuraninya, dan bagaimana pers memaknai tanggung jawab sejarahnya,” ujar Muhaimin secara tegas di hadapan peserta HPN 2026.

Muhaimin menggarisbawahi bahwa tidak sedikit media yang terjebak dalam perang kecepatan — menampilkan informasi primer secepat mungkin tanpa memastikan keakuratannya, apalagi memeriksa latar dan konteks faktual dengan seksama. Ia menilai pendekatan seperti ini berisiko menghasilkan berita-berita dangkal yang hanya beredar luas tanpa kontribusi nyata terhadap pemahaman masyarakat. Dengan demikian, pers yang hanya mengandalkan teknologi dan algoritma tanpa kedalaman manusiawi akan kehilangan makna sebagai lembaga penyalur informasi yang kredibel.

Dampak Teknologi Tanpa Sentuhan Manusia
Menurut Muhaimin, tanpa sentuhan manusia, jurnalisme berisiko kehilangan empati — salah satu elemen paling penting dalam membangun hubungan antara media dan publik. Tanpa verifikasi yang serius dan etika jurnalistik yang kokoh, berita yang dihasilkan justru bisa menjadi berita halusinasi yang menyesatkan masyarakat. Ia memperingatkan bahwa jika jurnalisme bergerak tanpa keberpihakan pada kebenaran, hubungan media dengan publiknya sendiri akan semakin menjauh. “Tanpa verifikasi dan etika, ia hanya dapat melahirkan berita-berita halusinasi. Dan tanpa keberpihakan pada kebenaran, ia akan menjauh dari publiknya sendiri,” tegasnya dalam sambutan tersebut.

Pernyataan ini sangat relevan dengan dinamika industri media global saat ini, di mana penggunaan algoritma dan AI dalam produksi dan distribusi berita telah berkembang pesat. Algoritma sering kali menentukan konten apa yang muncul di linimasa pengguna berdasarkan parameter yang bersifat komersial dan sensasional, bukan berdasarkan nilai kebenaran dan dampak sosial. Dalam situasi seperti ini, media yang hanya menyerahkan prosesnya pada teknologi berpotensi menjadi produk dari mesin — kehilangan nilai humanistik yang semestinya menjadi ciri khas jurnalistik.

Informasi Cepat vs. Informasi Bermakna
Muhaimin mengakui bahwa rakyat memang membutuhkan informasi yang cepat. Namun, kecepatan saja tidak cukup jika tidak disertai akurasi, kejujuran, dan muatan kebaikan. Dalam pandangannya, jurnalisme harus menjadi alat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar alat rekayasa data atau efisiensi produksi lewat teknologi. “Rakyat membutuhkan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, jujur, dan membawa kebaikan,” ungkap Muhaimin. Pernyataan ini sekaligus mengingatkan bahwa fungsi jurnalisme adalah membentuk opini publik yang sehat, bukan sekadar memenuhi algoritma digital yang sering memprioritaskan klik, tayangan, atau interaksi instan.

Dalam era di mana kecerdasan buatan semakin berkembang, tantangan bagi media adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar jurnalistik. AI bisa mempercepat proses editing, analisis data besar, dan distribusi konten, tetapi keputusan-keputusan penting tetap harus melalui pengawasan dan kontrol oleh jurnalis manusia yang berpegang pada etika profesi.

Kekuatan Daya Kritis dan Tanggung Jawab Sejarah
Menutup sambutannya, Muhaimin menegaskan kembali bahwa jurnalisme tidak boleh kalah oleh algoritma. Kekuatan sejati pers, menurutnya, bersumber dari daya kritis yang konstruktif — kemampuan untuk menganalisis fakta secara mendalam, mempertanyakan narasi dominan, serta memperjuangkan kebenaran demi kepentingan bersama. Hal ini juga berkaitan erat dengan tanggung jawab sejarah yang diemban media sebagai penjaga memori kolektif masyarakat.

Dengan demikian, pernyataan Muhaimin bukan hanya sebuah seruan normatif, tetapi juga sebuah panggilan strategis agar dunia pers tidak terjebak pada dominasi teknologi semata. Ia mengajak semua pihak yang terlibat dalam ekosistem media — dari jurnalis, redaktur, hingga pemimpin redaksi — untuk terus memperkuat kualitas kerja jurnalistik berbasis nurani, etika, dan komitmen terhadap kebenaran. Dalam konteks demokrasi yang sehat, media berperan sebagai pilar penting yang menjaga masyarakat dari arus informasi yang sempit, dangkal, atau manipulatif.

Dengan demikian, titik fokus Muhaimin bukan sekadar menolak teknologi, tetapi menegaskan bahwa kehadiran teknologi informasi harus diimbangi oleh peran manusia sebagai pengendali nilai-nilai jurnalistik, yang pada akhirnya memperkokoh demokrasi melalui informasi yang bermakna dan bertanggung jawab.

Terkini