Minat Mobil Listrik Meningkat di Daerah, BYD Perluas Jaringan Hingga Luar Jawa

Senin, 09 Februari 2026 | 08:32:05 WIB

JAKARTA - Permintaan kendaraan listrik (EV) di Indonesia semakin merata, tidak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya tetapi juga menjalar ke kota tier-2 dan kabupaten di luar Pulau Jawa. Fenomena ini ditangkap oleh BYD Motor Indonesia sebagai peluang strategis untuk memperluas jaringan, bahkan menggandakan jumlah cabang mereka di wilayah daerah yang selama ini belum terlayani secara optimal. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa mobil listrik kini bukan sekadar tren, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup baru masyarakat Indonesia, terutama di luar pusat ekonomi utama.

Lonjakan Minat EV di Wilayah Tier-2 Menjadi Kunci Ekspansi

Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menyatakan bahwa dalam kunjungannya ke beberapa daerah, ia melihat lonjakan pembelian kendaraan EV di kota-kota tier-2, terutama di luar Pulau Jawa. EV kemudian dipandang sebagai solusi nyata untuk mengatasi masalah pasokan bahan bakar dan antrean panjang di SPBU yang masih sering terjadi di daerah. Menurut Luther, masyarakat setempat kini mulai mempertimbangkan kendaraan listrik bukan hanya dari sisi inovasi teknologi tetapi juga dari kebutuhan praktis sehari-hari.

“Di beberapa wilayah, BBM itu langka, sementara listrik tersedia. Kendaraan listrik akhirnya dimanfaatkan sebagai alternatif solusi,” ujar Luther Panjaitan saat menjelaskan tren pasar EV di Indonesia. Pernyataan ini menegaskan bahwa faktor geografis dan tantangan logistik turut mempercepat adopsi EV di daerah.

Persepsi baru ini merupakan bagian dari perubahan perilaku konsumen otomotif di daerah yang selama ini bergantung pada kendaraan bermesin konvensional. Ketika akses bensin atau solar menjadi tantangan di beberapa kabupaten, EV tampil sebagai opsi yang lebih efisien dan stabil secara pasokan.

Efisiensi Biaya dan Pajak Dorong Keputusan Pembelian Masyarakat

Selain sebagai jawaban atas persoalan kelangkaan BBM, keputusan masyarakat beralih ke EV juga didorong oleh faktor efisiensi biaya harian dan struktur pajak yang lebih menarik. Luther menjelaskan bahwa setelah melihat dari sisi pengeluaran sehari-hari, banyak pengguna EV merasakan manfaat langsungnya — terutama biaya operasi yang lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.

“Kemudian tentunya setelah mereka lihat dari sisi pajak, dari sisi pengeluaran keseharian itu sangat efisien. Jadi di tier-2 sekarang kami fokuskan ke jumlah jaringan kita bangun, bahkan di luar daerah dan kota-kota tier-2. Kita rencanakan dobel dari yang sudah kita dapatkan,” kata Luther. Kata-kata ini menunjukkan bahwa BYD tidak hanya bereaksi terhadap tren permintaan, tetapi juga menyusun strategi jangka panjang untuk memanfaatkan perubahan preferensi konsumen.

Menariknya, strategi ini tidak hanya berdampak pada jumlah penjualan unit EV, tetapi juga memperluas ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Dengan semakin banyak diler dan layanan purna jual tersedia di daerah, potensi adopsi EV oleh masyarakat pedalaman dan kota menengah semakin terbuka lebar.

BYD Gandakan Cabang Diler untuk Menjawab Permintaan Pasar

Menanggapi perubahan permintaan ini, BYD Indonesia memutuskan untuk memperluas jaringannya hingga mencapai 150 cabang diler pada tahun 2026. Ekspansi ini tidak hanya mencakup kota-kota besar, tetapi menyentuh kota-kota menengah yang selama ini belum banyak dilirik oleh produsen otomotif besar.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa BYD tidak ingin sekadar menjadi pemain di pasar EV Indonesia, tetapi juga menjadi pelopor penetrasi kendaraan listrik ke wilayah-wilayah yang lebih luas. Dengan meningkatkan akses diler dan layanan, BYD berharap dapat mempercepat adopsi EV dan memperkuat posisinya di segmen ini secara nasional.

Seiring dengan perluasan jaringan ini, masyarakat di daerah juga akan mendapatkan akses yang lebih mudah terhadap layanan purna jual seperti perawatan dan suku cadang, yang selama ini sering menjadi kendala ketika menggunakan kendaraan listrik di luar wilayah metropolitan.

Pertumbuhan Pasar EV Indonesia dan Dominasi BYD Memperkuat Tren Lokal

Statistik industri memperlihatkan bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia tengah menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Sepanjang tahun 2025, penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak dan menyumbang lebih dari 12% dari total penjualan mobil nasional, menyusul lonjakan permintaan di berbagai segmen termasuk SUV, hatchback, hingga MPV EV.

Produk-produk BYD, seperti Atto 1 dan M6, mencatatkan angka penjualan yang kuat, dengan model Atto 1 menjadi salah satu yang paling diminati di pasar domestik. Portofolio BYD mencakup hampir seluruh segmen kendaraan, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjawab kebutuhan pasar yang beragam.

Selain itu, statistik lain dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan bahwa pangsa pasar EV di Indonesia telah berkembang pesat, bahkan mencapai sekitar 10% pada beberapa periode penjualan terbaru. Hal ini menjadi indikator bahwa minat terhadap kendaraan listrik tidak hanya meningkat di kota besar tetapi juga secara nasional.

Menuju Indonesia Berbasis Mobilitas Listrik di Seluruh Wilayah

Transformasi permintaan kendaraan listrik di Indonesia bukan lagi sebatas retorika, tetapi sudah menjadi fakta di lapangan yang didukung oleh data penjualan dan respon aktif pelaku industri seperti BYD. Perubahan perilaku konsumen, baik dari segi kebutuhan praktis maupun efisiensi biaya, menjadi faktor utama yang memperkuat tren ini.

Dengan strategi ekspansi yang agresif — menggandakan jaringan diler di daerah — BYD memperlihatkan bahwa mobil listrik bukan lagi barang premium yang hanya eksklusif di kota besar, tetapi siap menjadi kendaraan pilihan utama di seluruh penjuru negeri. Inisiatif ini juga berpotensi mempercepat transformasi industri otomotif nasional menuju era kendaraan ramah lingkungan yang lebih inklusif dan merata.

Terkini