JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para petani, terutamanya di kawasan selatan garis khatulistiwa, agar melakukan penyesuaian jadwal tanam demi meminimalkan risiko potensi gagal panen akibat terjangan musim kemarau yang makin panjang dan kering.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengutarakan, terhitung sejak Maret 2026, jajarannya telah meramalkan bahwasanya Indonesia bakal berhadapan dengan musim kemarau yang berjalan beriringan bersama fenomena El Nino. Sejalan dengan dinamika kondisi global, tingkat intensitas fenomena tersebut kian menguat.
Oleh karena itu, BMKG mendesak petani agar menyelaraskan pola tanam supaya alur proses panen tidak jatuh bertepatan pada puncak musim kemarau yang berpotensi menggerus tingkat produktivitas.
“El Nino itu memengaruhi signifikan itu di bagian selatan garis khatulistiwa. Di sana memang kami harus menyesuaikan untuk memulai periode tanamnya, apakah akan dipercepat supaya pada saat di akhir mendekati panen itu ketika masuk kemarau jadi tidak memengaruhi hasil panennya karena yang kami takutkan adalah ketika terjadi gagal panen atau masyarakat enggan menanam karena menghadapi El Nino ini,” kata Teuku dalam konferensi pers Dialog Nasional bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026).
Pihak BMKG menggarisbawahi, terpaan dampak El Nino paling dominan diproyeksikan menerjang kawasan selatan garis khatulistiwa. Wilayah tersebut mencakup Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Pulau Jawa utamanya area pesisir, Sumatra bagian selatan, hingga Papua bagian selatan.
Kendati demikian, ia membeberkan bahwasanya tidak seluruh wilayah Indonesia mengantongi karakteristik musim yang seragam. BMKG memetakan wilayah Indonesia ke dalam 699 zona musim sehingga skema strategi pendampingan sanggup disesuaikan dengan profil iklim tiap-tiap daerah.
Di samping menggeser kalender tanam, BMKG turut memacu pemanfaatan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi gersang. Dalam hal ini, BMKG mengeksekusi pendampingan bagi para petani dengan menggandeng para penyuluh pertanian di pelbagai daerah.
Lebih jauh, Teuku menambahkan bahwasanya El Nino memiliki perbedaan dengan musim kemarau biasa. Menurut penjelasannya, musim kemarau bertindak selaku siklus tahunan rutin, sedangkan El Nino menjadi pemicu yang memperparah kemarau sehingga bergulir lebih panjang dan jauh lebih kering.
BMKG memproyeksikan daya pengaruh El Nino terhadap wilayah Indonesia bakal mulai melandai pada pertengahan Oktober seiring bergulirnya musim hujan, meskipun fenomena tersebut diproyeksikan tetap aktif di tingkat global hingga Mei 2027.
Adapun pihak BMKG terus mengawal ketat laju perkembangan fenomena tersebut lantaran El Nino masih berpeluang melonjak menuju fase yang lebih tinggi.