MBG

Surabaya Tahan Program MBG Saat Ramadan, Ini 3 Strategi Pemkot Jaga Gizi Siswa

Surabaya Tahan Program MBG Saat Ramadan, Ini 3 Strategi Pemkot Jaga Gizi Siswa
Surabaya Tahan Program MBG Saat Ramadan, Ini 3 Strategi Pemkot Jaga Gizi Siswa

JAKARTA – Pemerintah Kota Surabaya memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap tidak libur saat bulan Ramadan 1447 Hijriah/2026 meskipun banyak siswa menjalankan puasa. Kebijakan ini ditetapkan untuk memastikan kebutuhan gizi para peserta didik tetap terpenuhi, sekaligus menjaga kesehatan serta kualitas pendidikan di tengah jadwal puasa yang berbeda dari biasanya. Keputusan ini merupakan bagian dari strategi lebih luas yang dicanangkan Pemkot Surabaya untuk menghadapi tantangan pemenuhan gizi siswa selama bulan suci ini, tanpa mengubah isi atau kutipan kebijakan resmi yang berlaku.

Penyesuaian Mekanisme Distribusi MBG Selama Ramadan

Program MBG yang semula dirancang untuk pembagian makanan bergizi langsung kepada siswa selama jam sekolah tetap dijalankan di bulan Ramadan, tetapi dengan mekanisme yang disesuaikan. Dalam pelaksanaannya, menu makanan MBG diubah menjadi makanan kering atau siap saji yang tahan lebih lama agar siswa muslim yang berpuasa bisa membawa pulang dan mengonsumsinya pada waktu berbuka puasa. Langkah ini dibuat untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang menjalankan ibadah puasa tanpa mengurangi porsi atau nilai gizi yang diterima siswa. Penyesuaian tersebut juga diharapkan meminimalkan gangguan terhadap kegiatan belajar dan tetap mendukung tumbuh kembang anak secara sehat sepanjang hari.

Selain itu, penyaluran makanan bergizi yang biasanya dilakukan hari itu juga dijadwalkan sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan siswa muslim dan non-muslim. Pemerintah menegaskan, meskipun jadwal puasa mempengaruhi konsumsi harian anak, program MBG tidak dihentikan saat puasa, sehingga distribusi makanan bergizi tetap berjalan sepanjang bulan suci.

Integrasi Program Gizi dengan Kegiatan Pendidikan dan Sosial

Langkah kedua yang diambil Pemkot Surabaya adalah mengintegrasikan program gizi ini dengan agenda pendidikan dan kegiatan sosial yang lebih luas selama Ramadan. Selain memastikan MBG tetap berjalan, pemerintah kota turut memastikan bahwa siswa terus mendapatkan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berakhlak, termasuk penyesuaian jadwal pembelajaran agar sesuai dengan ritme puasa. Pemkot telah menetapkan jadwal dan pola belajar siswa selama Ramadan, bukan hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga memperkuat nilai spiritual, karakter, dan kepedulian sosial di kalangan peserta didik.

Integrasi itu mencakup penyesuaian jam pelajaran dan penambahan kegiatan yang menggugah sisi religius dan sosial siswa seperti kajian keagamaan, pesantren kilat, program kepedulian masyarakat, serta bimbingan bagi siswa non-muslim sesuai kepercayaan mereka. Strategi ini dirancang agar siswa tidak hanya sehat secara fisik karena asupan gizi tetapi juga matang secara emosional dan spiritual selama bulan Ramadan.

Penguatan Ketersediaan Pangan dan Stabilitas Harga di Level Kota

Pemkot Surabaya juga memfokuskan perhatian pada ketersediaan pangan dan stabilitas harga bahan pokok menjelang dan selama Ramadan sebagai strategi pendukung pemenuhan gizi di sekolah. Pemerintah kota mengintensifkan pengawasan harga dan stok bahan pokok di pasar lokal dan distributor untuk memastikan bahwa kebutuhan nutrisi masyarakat, termasuk siswa, tetap terpenuhi tanpa lonjakan harga yang signifikan. Langkah ini penting untuk menjaga daya beli siswa dan keluarganya, sehingga program MBG tidak berjalan terpisah dari kondisi ekonomi masyarakat.

Pemantauan tersebut dilakukan secara berkala di pasar tradisional dan modern di sejumlah titik strategis di Surabaya. Usaha ini membantu menjaga stok pangan tetap aman dan harga terkendali, terutama komoditas penting seperti beras, minyak goreng, telur, dan sayur-mayur. Ketika stabilitas harga pangan terjaga, pelaksanaan program MBG pun menjadi lebih efektif karena siswa dan keluarga tidak menghadapi tekanan ekonomi yang berlebihan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Dampak Kebijakan pada Siswa dan Masyarakat

Dengan strategi tersebut, Pemkot Surabaya berharap program MBG dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi kesehatan siswa selama Ramadan 2026. Penyesuaian menu serta pola distribusi tidak hanya menjaga kelangsungan gizi siswa tetapi juga mengakomodasi ritme puasa yang harus dijalankan banyak peserta didik. Selain itu, integrasi dengan kegiatan pendidikan dan pengawasan ketat terhadap ketersediaan pangan di masyarakat diharapkan menciptakan iklim belajar dan hidup yang kondusif, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk tetap fokus pada pendidikan dan ibadah tanpa harus khawatir akan kebutuhan gizi mereka.

Melalui kebijakan ini, Surabaya menunjukkan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan sosial budaya siswa, terutama di tengah ibadah puasa, sekaligus menegaskan bahwa program sosial seperti MBG dapat terus berjalan adaptif sesuai konteks budaya dan kebutuhan masyarakat setempat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index