Industri Tekstil Terpuruk, PHK Ribuan Karyawan Terancam 2026

Jumat, 28 November 2025 | 15:15:12 WIB
Industri Tekstil Terpuruk, PHK Ribuan Karyawan Terancam 2026

JAKARTA - Industri hulu tekstil Indonesia menghadapi tantangan berat. 

Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mencatat adanya penurunan produksi signifikan hingga menimbulkan kerugian serius. Situasi ini berdampak langsung pada kelangsungan pabrik dan karyawan.

Hingga 2025, lima pabrik tekstil telah menghentikan operasinya, dan prediksi PHK mencapai sekitar 3.000 orang. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa sektor hulu tekstil membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dan pelaku industri.

Pabrik-Pabrik yang Terhenti dan Dampaknya

Beberapa perusahaan yang terpaksa menutup pabriknya adalah PT Polychem Indonesia di Karawang dan Tangerang, PT Asia Pacific Fibers di Karawang, PT Rayon Utama Makmur (bagian Sritex Group), serta PT Susilia Indah Synthetics Fiber Industries (Sulindafin) di Tangerang.

Sekretaris Jenderal APSyFI, Farhan Aqil Syauqi, menyebut bahwa penutupan ini bukan akibat manajemen yang buruk, melainkan tekanan pasar yang sangat berat. Produk impor dengan harga lebih murah menjadi ancaman utama bagi daya saing industri lokal.

Imbas Produk Impor dan Penurunan Kapasitas Produksi

Farhan menekankan bahwa banjir produk impor dengan harga dumping, terutama kain dan benang, memaksa beberapa pabrik menghentikan produksinya. Saat ini, enam pabrik lainnya produksinya sudah di bawah 50% dan beberapa mesin polimerisasi berhenti beroperasi.

Situasi ini menunjukkan bahwa industri tekstil lokal tidak hanya menghadapi persaingan global, tetapi juga isu struktural internal yang perlu diatasi. Tanpa intervensi yang tepat, risiko PHK dan penurunan kapasitas produksi akan terus meningkat.

Upaya dan Tantangan Pemulihan Industri Tekstil

Meski tantangan besar, APSyFI mendorong langkah strategis agar industri tekstil kembali pulih. Solusi seperti proteksi terhadap produk impor, peningkatan efisiensi produksi, dan dukungan inovasi teknologi menjadi kunci.

Kondisi saat ini menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan. Penutupan pabrik dan PHK massal tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial, sehingga perlunya kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri untuk menstabilkan pasar domestik dan menjaga keberlanjutan industri tekstil Indonesia.

Terkini