JAKARTA - Indonesia menegaskan ambisinya melalui Second Nationally Determined Contribution (NDC), menargetkan puncak emisi 1,3–1,4 gigaton CO₂e pada 2030.
Target ini 8–17% lebih rendah dibanding proyeksi emisi sebelumnya dalam Enhanced NDC.
Upaya ini merupakan langkah penting memperkuat strategi nasional rendah karbon, sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Fokus pemerintah adalah penurunan emisi yang terukur, progresif, dan realistis.
Peran Teknologi dan Inovasi Industri
Dalam COP30 UNFCCC di Belém, Brasil, delegasi Indonesia menekankan teknologi, inovasi industri, dan ekonomi sirkular sebagai pendorong utama penurunan emisi. Sektor industri yang berbasis sumber daya memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi langsung pada ketahanan iklim.
Panel “Leveraging Technology through Waste Utilisation for Climate Impact” menyoroti pentingnya pemanfaatan limbah sebagai sumber daya bernilai tambah. Pendekatan ini juga memperkuat strategi pembangunan berkelanjutan melalui inovasi berbasis teknologi.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Emisi Rendah
Plt. Deputi PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup, Hanifah Dwi Nirwana, menekankan lima sektor utama penurunan emisi: kehutanan, energi, limbah, pertanian, dan proses industri. Sektor energi menjadi kunci transisi menuju energi terbarukan dan teknologi rendah karbon.
Kolaborasi antar sektor dianggap esensial. Pengelolaan limbah yang efisien dan inovatif memberi kontribusi langsung pada percepatan penurunan emisi, sekaligus mendukung efisiensi operasional dan ketahanan ekonomi jangka panjang.
Inisiatif Waste-to-Value di Industri Kehutanan
APRIL Group, produsen kertas PaperOne, menunjukkan praktik strategis melalui inisiatif waste-to-value di Pangkalan Kerinci, Riau. Limbah produksi dimanfaatkan sebagai energi terbarukan, pupuk mikronutrien, dan material konstruksi, mendukung keberlanjutan operasional pabrik.
Rita Alim, Deputy Director External Relations APRIL, menegaskan komitmen perusahaan untuk menciptakan dampak positif melalui pemanfaatan limbah. Hingga akhir 2024, pengurangan limbah padat ke TPA mencapai 50%, mendekati target 80% pada 2030.
Mendorong Transformasi Menuju Ekonomi Rendah Karbon
Pendekatan berbasis teknologi memungkinkan industri menurunkan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi dan ketahanan bisnis. Strategi ini sejalan dengan pilar Pertumbuhan Berkelanjutan APRIL2030 dan menegaskan bahwa inovasi industri menjadi katalis utama dalam pencapaian Second NDC.
Kolaborasi lintas sektor dan teknologi inovatif memastikan Indonesia semakin siap menghadapi krisis iklim global, sambil mendorong pembangunan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Masa depan industri dan lingkungan Indonesia diharapkan semakin selaras melalui strategi ini.