Harga Pangan Jumat 28 November 2025: Beras Premium hingga SPHP Turun

Jumat, 28 November 2025 | 15:55:36 WIB
Harga Pangan Jumat 28 November 2025: Beras Premium hingga SPHP Turun

JAKARTA - Harga pangan di tingkat konsumen mengalami penurunan pada Jumat, 28 November 2025, terutama untuk beras jenis medium, premium, dan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog. 

Hal ini menjadi kabar baik bagi masyarakat yang membutuhkan kepastian harga menjelang akhir tahun dan musim libur, saat permintaan cenderung meningkat.

Berdasarkan Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pukul 09.05 WIB, harga rata-rata beras medium nasional berada di Rp13.277 per kilogram, turun 14,34% dari HET nasional Rp13.500–Rp15.500 per kilogram. 

Secara zonasi, harga beras medium di zona 1 Rp12.952 per kilogram, zona 2 Rp13.508 per kilogram, dan zona 3 Rp14.571 per kilogram.

Sementara itu, beras premium tercatat rata-rata Rp15.439 per kilogram. Di zona 1, harganya Rp14.754 per kilogram, zona 2 Rp15.885 per kilogram, dan zona 3 Rp17.863 per kilogram. HET beras premium masing-masing zona adalah Rp14.900, Rp15.400, dan Rp15.800 per kilogram.

Beras SPHP Bulog, yang berperan menstabilkan pasokan pangan nasional, juga mengalami penurunan. Rata-rata harga nasional berada di Rp12.438 per kilogram, turun 7,87% dari HET Rp12.500–Rp13.500 per kilogram. 

Penurunan berlaku di semua zona: zona 1 Rp12.163 per kilogram, zona 2 Rp12.683 per kilogram, dan zona 3 Rp13.955 per kilogram.

Fluktuasi Harga Komoditas Lain

Meski harga beras mengalami penurunan, beberapa komoditas lain justru naik. Harga cabai rawit merah tercatat rata-rata nasional Rp48.997 per kilogram, masih berada dalam rentang HAP Rp40.000–Rp57.000 per kilogram. 

Sementara itu, cabai merah keriting naik 8,82% menjadi Rp59.851 per kilogram, melebihi HAP Rp37.000–Rp55.000 per kilogram. Cabai merah besar berada di level Rp54.546 per kilogram.

Jagung pakan peternak mengalami kenaikan signifikan. Harga rata-rata nasional mencapai Rp6.744 per kilogram, naik 16,28% dari HAP Rp5.800 per kilogram. Di sisi lain, harga kedelai biji kering impor turun 12,34% menjadi Rp10.519 per kilogram dari HAP Rp12.000 per kilogram.

Harga rata-rata bawang merah di tingkat konsumen Rp40.995 per kilogram, sedangkan bawang putih Rp35.946 per kilogram. Minyak goreng kemasan rata-rata Rp20.448 per liter dan curah Rp17.236 per liter. 

Meski ada penurunan di beberapa daerah, harga nasional Minyakita masih di atas HET Rp15.700 per liter, tercatat Rp17.128 per liter atau naik 9,1%.

Harga rata-rata gula konsumsi mencapai Rp17.951 per kilogram, sedangkan garam konsumsi Rp11.278 per kilogram. Harga rata-rata tepung terigu kemasan Rp12.877 per kilogram dan curah Rp9.658 per kilogram.

Harga Protein Hewani dan Ikan

Harga protein hewani relatif stabil, namun ada kenaikan tipis pada beberapa komoditas. Daging ayam ras rata-rata Rp38.328 per kilogram, masih di bawah HAP nasional Rp40.000 per kilogram. Telur ayam ras naik tipis 0,94% menjadi Rp30.283 per kilogram dari HAP Rp30.000 per kilogram.

Harga ikan bervariasi: ikan kembung Rp42.751 per kilogram, ikan tongkol Rp35.181 per kilogram, dan ikan bandeng Rp33.545 per kilogram. Sedangkan harga daging merah, daging sapi murni Rp136.839 per kilogram, daging kerbau lokal Rp138.500 per kilogram, dan kerbau beku impor Rp101.693 per kilogram.

Analisis Tren dan Penyebab Pergerakan Harga

Penurunan harga beras terutama dipicu oleh ketersediaan stok yang cukup di pasar. Faktor ini menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah melalui mekanisme SPHP Bulog untuk menjaga stabilitas harga pangan. Konsumen kini mendapat manfaat langsung dari penurunan harga, terutama di tingkat rumah tangga.

Harga beras premium yang turun juga berdampak pada sektor distribusi dan ritel. Penurunan harga SPHP menandakan stok terkontrol, sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Namun, kenaikan harga cabai dan jagung pakan perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada inflasi pangan secara lokal.

Faktor lain yang memengaruhi pergerakan harga adalah musim panen, distribusi logistik, dan fluktuasi biaya produksi. Pihak Bapanas dan pemerintah secara aktif memantau harga pangan agar tidak terjadi lonjakan mendadak yang membebani masyarakat.

Kebijakan Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Harga

Pemerintah melalui Bapanas menggunakan data panel harga nasional untuk mengawasi pergerakan harga. Sistem ini memungkinkan intervensi pasar yang lebih cepat, termasuk distribusi SPHP atau penyesuaian kebijakan HET dan HAP sesuai kebutuhan daerah.

Dengan adanya harga acuan nasional, masyarakat mendapat kepastian harga, sementara produsen dan pedagang memiliki pedoman yang jelas. Kebijakan ini diharapkan bisa menekan spekulasi dan praktik monopoli yang merugikan konsumen.

Prospek Stabilitas Pangan Jangka Panjang

Secara keseluruhan, tren penurunan harga beras dan stabilitas harga komoditas lainnya menunjukkan kondisi pasar yang relatif sehat. Stabilitas ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung konsumsi domestik, dan menekan inflasi pangan menjelang akhir tahun.

Bapanas juga menekankan pentingnya koordinasi dengan Bulog, pemerintah daerah, dan sektor swasta agar distribusi pangan tetap merata di seluruh wilayah Indonesia. Intervensi yang tepat diharapkan dapat mencegah kekosongan stok di pasar lokal dan menghindari lonjakan harga mendadak.

Harga pangan nasional pada Jumat, 28 November 2025 menunjukkan tren penurunan untuk beras medium, premium, dan SPHP Bulog, sementara beberapa komoditas lain mengalami kenaikan moderat. 

Kebijakan HET, HAP, dan SPHP terbukti efektif menjaga stabilitas harga, memberikan kepastian bagi konsumen, dan tetap mendorong keberlanjutan sektor pangan nasional. Pemantauan terus dilakukan agar ketersediaan pangan dan stabilitas harga tetap terjaga hingga akhir tahun.

Terkini