JAKARTA — Asisten Deputi Perluasan Pasar Usaha Menengah Kementerian UMKM Republik Indonesia, Harun Adama Sume, mengamini bahwa komoditas kopi asal Indonesia mengantongi kualitas yang teramat unggul. Begitu pula yang dihasilkan di wilayah Sumatera Utara.
Varian biji kopi populer seperti Mandheling, Lintong, hingga Sidikalang senantiasa meramaikan pangsa pasar kopi global. Tidak heran jika Indonesia kokoh menempati posisi keempat sebagai produsen kopi terbesar di tingkat dunia.
Ranking ini pun dinilai Harun berpeluang merangkak lebih tinggi, mengingat Indonesia dianugerahi karakteristik tanah yang subur.
"Bahkan baru kemarin, karena saya adalah Asisten Deputi Perluasan Pasar, saya menerima banyak sekali permintaan kopi Indonesia seperti robusta dan arabika. Sehingga kami bisa dorong pengembangan kopi ini melalui perluasan pasar," kata Harun, Jumat (31/7/2026) di acara Indonesia Coffee Expo (ICX).
Kekayaan keanekaragaman kopi Indonesia dikatakannya memikat banyak penggemar. Tak cuma populer di pasar domestik, melainkan mancanegara turut menggemarinya.
"Banyak permintaan. Ada dari Australia, dari tetangga kami Malaysia, dari China. Bahkan China itu paling besar permintaannya. Tetapi memang dengan China kami harus lebih ulet, karena mereka itu juga ingin menjualnya lagi, kan," sebut Harun.
Pihaknya konsisten memacu para pelaku usaha kopi guna melancarkan langkah ekspor, terlebih bila hal tersebut mendatangkan dividen keuntungan yang masif. Bahkan belum lama ini terdapat gerai kopi asal London yang menaruh minat pada biji kopi Indonesia.
"Jadi seperti itu sebenarnya, banyak sekali yang kami lakukan untuk para pengusaha UMKM, termasuk di dalamnya teman-teman pengusaha UMKM yang bergerak di komoditas kopi dan turunannya," jelas Harun.
Secara akumulatif, Indonesia menaungi lini UMKM berjumlah 56 juta. Dari angka tersebut, 54 juta di antaranya tergolong usaha mikro, 1,1 juta merupakan usaha kecil, dan 800 ribu tergolong usaha menengah.
Harun menguraikan bahwasanya di dalam struktur tersebut, ada amat banyak unit usaha yang bergelut pada tata niaga kopi, mulai dari kedai kopi (coffee shop) hingga pemasok (supplier) kopi.
"Indonesia kan berkontribusi sekitar 6% sampai 7% kebutuhan kopi global. Produksi kami itu sekitar 650.000 ton sampai 750.000 ton yang kami kirim ke luar negeri. Kami berharap kontribusi kami terus tumbuh. Tidak hanya 7%, tapi kami ingin di atas 10%," harap Harun.
Pihak pemerintah ditegaskannya turut menyokong dari aspek penerbitan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Bagi para produsen kopi yang bersiap menembus kompetisi global, pihaknya siap memberikan pendampingan demi mengamankan serta memenuhi standar regulasi yang berlaku.
Lantaran itulah ia mengimbau segenap pelaku UMKM untuk aktif mendaftarkan usahanya. Langkah ini dinilai sebagai wujud konkrit dukungan dalam mendampingi para pengusaha.
"Kami kerja sama dengan Kementerian Hukum dan HAM terkait dengan fasilitasi HAKI. Ada HAKI, Halal, bahkan dari sisi proses sertifikasi GMP dan HACCP. Kalau permintaan ekspor, jika misalnya dia terkait pangan tentu sesuai regulasinya mereka, kami harus penuhi itu," akunya.