Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Terbaru Mulai 26 Januari 2026

Senin, 26 Januari 2026 | 12:22:54 WIB
Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Terbaru Mulai 26 Januari 2026

JAKARTA - Mulai Senin, 26 Januari 2026, konsumen di seluruh Indonesia akan kembali disuguhi harga terbaru Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU milik berbagai operator besar. 

Setelah penurunan harga yang dilakukan pada 1 Januari 2026, harga BBM pada periode 26-31 Januari ini dipastikan tetap stabil tanpa ada perubahan besar. 

Meski begitu, harga-harga BBM dari sejumlah merek, seperti Pertamina, Shell, BP, dan Vivo, tetap menjadi perhatian karena berdampak langsung pada biaya transportasi masyarakat, terlebih di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak.

Langkah penurunan harga ini terbilang signifikan mengingat tren harga BBM dunia dan tantangan ekonomi yang terus berlanjut. 

Pertamina, yang merupakan operator terbesar di Indonesia, memutuskan untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi pada awal tahun ini, dengan tujuan agar masyarakat bisa menikmati harga yang lebih terjangkau. 

Penurunan ini juga diikuti oleh operator besar lainnya, seperti Shell, BP, dan Vivo, yang membuat persaingan harga di pasar semakin ketat. Meskipun tidak ada perubahan pada periode ini, perubahan harga sebelumnya telah memberikan dampak positif bagi pengendara yang merasa terbantu dengan penurunan biaya perjalanan.

Perubahan Harga BBM Pertamina: Penurunan Signifikan pada Jenis Nonsubsidi

PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan minyak negara, kembali melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 1 Januari 2026. Penurunan harga ini berlaku untuk sejumlah jenis bahan bakar, dengan rincian sebagai berikut:

Solar Subsidi (CN 48): Rp6.800 per liter

Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter

Pertamax (RON 92): Rp12.350 per liter

Pertamax Green (RON 95): Rp13.150 per liter

Pertamax Turbo (RON 98): Rp13.400 per liter

Dexlite (CN 51): Rp13.500 per liter

Pertamina DEX (CN 53): Rp13.600 per liter

Harga BBM jenis subsidi, seperti Solar, tetap berada di angka yang terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan, sementara jenis nonsubsidi mengalami penurunan yang cukup terasa. 

Dengan perubahan harga ini, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, mengurangi biaya logistik, serta meningkatkan daya beli masyarakat.

Shell: Penurunan Harga pada Produk BBM Utama dan Diesel

Shell sebagai salah satu pemain besar dalam industri BBM juga tak ketinggalan dalam melakukan penyesuaian harga. 

Berdasarkan informasi dari laman resmi mereka, harga Shell Super (RON 92) di wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur turun menjadi Rp12.700 per liter, dibandingkan harga sebelumnya yang tercatat di angka Rp13.000 per liter pada Desember 2025. Penurunan ini juga berlaku pada produk premium mereka, yakni:

Shell V Power (RON 95): Rp13.190 per liter

Shell V Power Nitro+ (RON 98): Rp13.480 per liter

Shell V-Power Diesel: Rp13.860 per liter

Harga-harga tersebut mencerminkan upaya Shell untuk tetap kompetitif di pasar, menawarkan produk dengan kualitas terbaik, serta membantu konsumen dalam mengelola pengeluaran bahan bakar mereka, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.

BP: Harga BBM Turun di Wilayah Jabodetabek dan Sekitarnya

Sementara itu, BP, salah satu operator BBM internasional yang beroperasi di Indonesia, juga melakukan penurunan harga pada 1 Januari 2026. Berdasarkan informasi terbaru, harga BBM BP di wilayah Jabodetabek mengalami penyesuaian sebagai berikut:

BP 92: Rp12.500 per liter (dari Rp13.000 per liter)

BP Ultimate (RON 95): Rp13.190 per liter

BP Ultimate Diesel: Rp13.860 per liter

Penurunan harga BBM BP ini tentu memberikan alternatif lebih hemat bagi pengendara yang menggunakan kendaraan dengan bahan bakar jenis ini. 

Selain itu, BP juga berupaya untuk tetap menghadirkan produk BBM dengan kualitas yang diakui di tingkat global, sambil menjaga daya saingnya di pasar nasional.

Vivo: Penurunan Harga untuk Produk Revvo dan Diesel

Di sisi lain, Vivo, yang merupakan salah satu operator yang beroperasi di Indonesia, juga ikut menurunkan harga BBM-nya. 

Harga Revvo 92 di SPBU Vivo turun dari Rp13.000 menjadi Rp12.700 per liter, memberikan pilihan lebih hemat bagi pengendara yang membutuhkan bahan bakar berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Sementara itu, harga Diesel Primus turun signifikan, dari Rp15.520 menjadi Rp13.610 per liter. 

Penurunan harga ini tentu memberikan dampak positif bagi pengendara kendaraan bermesin diesel, yang semakin membutuhkan alternatif bahan bakar dengan harga yang lebih bersahabat.

Faktor Penyebab Penurunan Harga BBM

Penurunan harga BBM di Indonesia oleh berbagai operator ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi pasar minyak global, yang menunjukkan tren harga yang lebih stabil dan cenderung menurun pada beberapa bulan terakhir. 

Selain itu, kebijakan pemerintah Indonesia yang terus mendukung stabilitas harga BBM di dalam negeri juga turut berperan penting dalam menjaga kestabilan ekonomi, terutama dalam sektor transportasi.

Meskipun demikian, harga BBM di SPBU masih bisa mengalami perubahan tergantung pada berbagai faktor lain, seperti fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan kebijakan fiskal pemerintah. 

Oleh karena itu, konsumen diharapkan untuk terus memantau informasi resmi dari masing-masing operator BBM untuk mendapatkan informasi terbaru.

Harga BBM yang Stabil di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Stabilnya harga BBM pada 26-31 Januari 2026 memberikan kelegaan bagi masyarakat, terutama mereka yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari. 

Dengan harga yang lebih terjangkau, diharapkan biaya hidup masyarakat dapat sedikit berkurang, sekaligus mendukung perekonomian domestik yang tengah berupaya bangkit setelah tantangan ekonomi global.

Dalam kondisi perekonomian yang terus beradaptasi dengan berbagai perubahan, harga BBM yang stabil dan terjangkau menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat. 

Dengan penurunan harga yang dilakukan oleh berbagai operator BBM, diharapkan konsumen dapat lebih hemat dalam pengeluaran transportasi, serta turut mendukung efisiensi dalam sektor logistik dan ekonomi secara keseluruhan.

Terkini