IBADAH PUASA

Khutbah Jumat Mengulas Hikmah Menahan Diri Melalui Ibadah Puasa Ramadhan

Khutbah Jumat Mengulas Hikmah Menahan Diri Melalui Ibadah Puasa Ramadhan
Khutbah Jumat Mengulas Hikmah Menahan Diri Melalui Ibadah Puasa Ramadhan

JAKARTA - Ibadah puasa di bulan Ramadhan mengandung pelajaran penting tentang kemampuan mengendalikan diri, baik dalam menjaga sikap, lisan, maupun perilaku sehari-hari sebagai bagian dari pendidikan ruhani umat Islam. Khutbah Jumat berjudul Rahasia Menahan Diri dalam Ibadah Puasa menegaskan bahwa Ramadhan merupakan bulan pembinaan batin yang membimbing umat Islam agar hidup selaras dengan nilai-nilai ilahiah.

Naskah khutbah ini ditulis oleh KH Arifuddin dari Lembaga Dakwah PWNU Jawa Tengah Bidang Tabligh dan Pengembangan Masyarakat. Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak memperkuat keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Bulan Ramadhan disebut sebagai bulan tarbiyah yang mendidik batin dan membimbing perilaku umat Islam. Salah satu pelajaran utama dari ibadah puasa adalah kemampuan menahan diri yang menjadi dasar pembentukan kepribadian seorang muslim.

Puasa Sebagai Latihan Pengendalian Diri

Dalam khutbah dijelaskan bahwa puasa berasal dari kata ṣaum atau ṣiyam yang berarti menahan diri atau imsak. Secara fikih, puasa diartikan sebagai menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Melalui latihan menahan diri tersebut, umat Islam diajak memahami bahwa keselamatan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan mengendalikan diri dari hal-hal yang merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Bahkan terhadap sesuatu yang secara lahiriah tidak tampak merugikan sekalipun, pengendalian diri tetap diperlukan.

Khutbah juga menyinggung kondisi kehidupan modern, termasuk penggunaan media sosial yang dapat memicu konflik jika seseorang tidak mampu mengendalikan ucapan maupun tulisan. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi inti pendidikan yang terkandung dalam ibadah puasa.

Puasa Sebagai Perisai dari Perbuatan Maksiat

Dalam khutbah disebutkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

“Puasa adalah benteng (perisai), maka janganlah dia (orang yang berpuasa) berkata kotor dan tidak bertindak bodoh. Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, hendaklah dia berkata: ‘Saya sedang puasa’ (dua kali). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya demi Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat kebaikan serupa.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa puasa berfungsi sebagai perisai yang menjaga seseorang dari perbuatan maksiat serta membantu seorang mukmin mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang.

Dalam penjelasan khutbah disebutkan pula pandangan Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa puasa merupakan upaya menundukkan kekuatan setan yang memanfaatkan syahwat manusia. Ketika asupan makanan dan minuman dikurangi melalui puasa, kekuatan syahwat melemah sehingga pengaruh setan pun berkurang.

Mengendalikan Emosi dan Perkataan

Khutbah juga mengingatkan bahwa orang berpuasa harus menjauhi perkataan kotor dan tindakan emosional seperti mengumpat atau membentak. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai peristiwa dapat memicu kemarahan, baik dalam interaksi langsung maupun melalui media sosial.

Rasulullah SAW memberikan tuntunan agar orang yang berpuasa tidak membalas cacian dengan emosi, melainkan cukup mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa. Sikap tersebut mencerminkan pengendalian ego dan emosi sebagai inti ibadah puasa.

Menurut Imam Nawawi yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar, ungkapan “saya sedang berpuasa” tidak hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi juga sebagai pengingat bagi diri sendiri agar mampu mengendalikan kemarahan.

Pahala Puasa yang Tidak Terbatas

Khutbah menegaskan bahwa usaha mengendalikan diri melalui puasa tidak akan sia-sia karena Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang berpuasa. Hal ini ditegaskan melalui sabda Rasulullah SAW bahwa puasa adalah ibadah yang pahalanya langsung diberikan oleh Allah SWT.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pahala amal manusia umumnya dilipatgandakan antara sepuluh hingga tujuh ratus kali, sedangkan pahala puasa diberikan langsung oleh Allah SWT tanpa batas tertentu.

Khutbah juga memuat hadis Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, berbuat dusta, dan kebodohan (kemaksiatan), maka Allah tidak butuh (menerima) dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan puasa sangat bergantung pada kemampuan seseorang mengendalikan nafsu dan perilaku. Tanpa pengendalian diri, ibadah puasa dapat kehilangan nilainya di sisi Allah SWT.

Melalui khutbah ini, jamaah diingatkan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk pribadi yang mampu mengendalikan nafsu, ego, dan syahwat.

Khutbah ditutup dengan doa agar umat Islam diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa dengan baik serta mampu menjaga pengendalian diri selama bulan Ramadhan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index